top of page
  • Writer's pictureSpencer's Indonesia

Spider-Man : Across The Spider - Verse : Petualangan Epik di Tengah Keajaiban dan Bahaya!



Spider-Man: Into The Spider-Verse merupakan sebuah pencapaian artistik yang luar biasa. Into The Spider-Verse tidak hanya menampilkan sesuatu yang fresh meskipun isinya familiar tapi ia berhasil membuat dalam bentuk yang benar-benar baru. Sebelum Into The Spider-Verse rilis, kita belum pernah menyaksikan film panjang animasi seperti ini. Menyaksikan sebuah film yang diadaptasi dari komik dan sensasi menontonnya benar-benar seperti membaca komik. Spider-Man: Across The Spider-Verse ternyata tidak mempertahankan kejeniusan film pertamanya tapi juga berani berinovasi dengan lebih gila lagi.


Setelah film pertamanya, Miles Morales (disuarakan oleh Shameik Moore) dan Gwen Stacy (disuarakan oleh Hailee Steinfeld) saling rindu tapi tidak pernah berkomunikasi. Sementara Miles sekarang sudah dewasa, Gwen sekarang semakin rebel meskipun ia belum berani mengaku ke ayahnya, George Stacy (disuarakan oleh Shea Whigham), kalau dia adalah Spider-Woman.


Miles sendiri sama seperti Gwen yang juga mempunyai masalah dengan kedua orangtuanya. Menjadi pahlawan dan menjadi seorang pelajar SMA bukanlah pekerjaan mudah. Apalagi ketika muncul penjahat super baru bernama The Spot (disuarakan oleh Jason Schwartzman). Jefferson Davis (disuarakan oleh Brian Tyree Henry) dan Rio Morales (disuarakan oleh Luna Lauren Velez) sebagai orangtua Miles ingin anaknya untuk hidup normal, hidup tenang. Tapi faktanya Miles adalah seorang Spider-Man tidak diketahui oleh kedua orangtuanya.


Kemudian Gwen Stacy datang menemui Miles. mereka tetap tertarik dengan satu sama lain. Mereka bertukar kabar tanpa berani mengaku perasaan mereka yang sebenarnya ke satu sama lain. Karena itulah Miles memutuskan untuk mengikuti Gwen yang diam-diam menjadi anggota Spider Society. Dan di sinilah petualangan dimulai.


Secara plot, Spider-Man: Across The Spider-Verse memang tidak sekuat film pertamanya karena ia mempunyai efek kejut yang lebih. Tapi sebagai sebuah sekuel (dan juga penyambung trilogi karena film ini diakhiri dengan cliffhanger yang mendebarkan), film ini tidak terjerembab ke penyakit banyak sekuel. Film ini mempunyai konflik yang jelas, character development yang apik dan set pieces yang megah. Penulis skrip Phil Lord, Christopher Miller dan David Callaham berhasil menjadikan aksinya bukan hanya sebagai atraksi tapi juga sebagai lahan drama. Twist demi twist yang muncul juga membuat keseluruhan film ini menjadi sangat seru meskipun durasinya lumayan panjang (140 menit).


Dengan sub-judulnya yang ambisius, tentu saja film ini menjanjikan banyak versi Spider-Man dengan dunia-dunia mereka. Sekali lagi, medium animasi dipergunakan dengan sangat tepat guna sehingga setiap dunia yang berbeda satu sama lain. Dunia Gwen yang dibuat impressionist membuat suasananya jauh lebih melodrama dari dunia yang lain. Dunia Spider Society yang futuristic mengingatkan saya akan anime-anime Jepang. Kemudian ada dunia Spider-Man dimana New York terlihat seperti Blade Runner. Influence neo-noir-punk-futuristic membuat Spider-Man terlihat sangat luar biasa keren.



 


Referensi :



Detikhot, 2023, Spider-Man: Across The Spider-Verse: Petualangan Mengesankan nan Megah, https://hot.detik.com/premiere/d-6754343/spider-man-across-the-spider-verse-petualangan-mengesankan-nan-megah


2 views0 comments
bottom of page